
Penelusuran dimulai ketika saya belajar menjadi praktisi personality profiling “jadul”. Sebuah ilmu pemetaan profil kepribadian, kelemahan, dan kekuatannya, yang dikembangkan pertama kali oleh Hypocrates di zaman Yunani kuno.
Personality PlusSejak saya mengenal ilmu ini dari Florence Litteaur (personality plus), saya jadi paham mengapa manusia diciptakan berragam, punya keunikan masing – masing, dan perlu strategi yang berbeda untuk menangani setiap karakter manusia.
Ilmunya saya terapkan dalam aktivitas sehari - hari, dalam bisnis, melatih, dalam keluarga dan masyarakat, hasilnya benar – benar efektif.
Guru pertama saya dalam ilmu ini adalah seorang pakar kepribadian. Saya masih ingat dia mengatakan, ”Kalau kamu ngerti karakter orang, kamu pasti tahu cara yang tepat untuk memotivasinya”.
Waktu itu, saya memang baru “nyemplung” sebagai trainer motivasi. Kebanyakan memberi training motivasi untuk para calon entrepreneur.
Dia kurang sependapat dengan cara – cara motivator yang sekedar bilang
Bisa !...
Bisa !..., seolah – olah semuanya digeneralisir. Padahal tiap orang berbeda. Bagus menurut si A, belum tentu bagus untuk si B. Mudah untuk si C, belum tentu mudah buat si D. Begitulah pendapatnya.
Entah kenapa, tiba – tiba saja, saya jadi penasaran menguak cara – cara yang dikatakannya sebagai bentuk generalisasi itu.
Neuro Linguistic ProgrammingSaya pun bertemu dengan ilmu yang bernama Neuro Linguistic Programming (NLP). Menurut informasi saat itu, konon inilah ilmu yang sering dipakai oleh para motivator. Walau akhirnya saya mendapati NLP bukanlah ilmu motivasi, dan yang dimaksud dengan men-generalisasi sama sekali tidak terbukti.
Banyak teknik yang saya pelajari dalam NLP, dan guru – guru saya selalu meng-klaim bahwa teknik NLP ini jauh lebih cepat dan ampuh daripada terapi psikologi maupun hypnosis / hypnotherapy.
Misalnya, menyembuhkan phobia dengan teknik fast-phobia-cure dalam NLP, lebih cepat jika dibandingkan dengan teknik cinema therapy dalam hypnotherapy.
Lagi – lagi saya dibuat penasaran. Memangnya hypnotherapy itu seperti apa ya?.
Hypnosis dan HypnotherapyPertanyaan itu mendorong saya untuk belajar hypnosis, sekaligus hypnotherapy. Saya menemukan kesamaan antara NLP dan Hypnosis / Hypnotherapy, dimana kedua ilmu ini mengeksplorasi potensi pikiran bawah sadar.
Saya akui, memang proses hypnotherapy tidak secepat teknik NLP. Dan, lagi – lagi guru hypnotherapy saya meng-klaim, “Yang penting hasilnya baik, bukan masalah cepat atau lambat, lama atau sebentar”, katanya.
Wadduuhhh!..., sebagai pemula di bidang – bidang tersebut, saya bingung juga. Kalau semua meng-klaim TERBAIK, TERAMPUH, TERCEPAT, lalu mana yang harus saya gunakan?.
Modern ReikiPertanyaan terjawab ketika saya mempelajari Modern Reiki dari seorang Master Teacher. Saya konsultasikan ilmu – ilmu yang saya pelajari diatas, dan bagaimanakah saya harus menggunakannya kalau semua meng-klaim “yang ter…”.
Dengan tenang dan selalu tersenyum, dia berpesan pada saya, “Ketika kamu hendak membantu orang lain, apakah dengan bentuk training, coaching, atau terapi… selalu pahami bantuan apa yang mereka butuhkan. Dengan begitu kamu akan tahu metode apa yang pantas dipakai untuk membantunya”.
Ya!..., itu dia kuncinya. Personality Profiling, NLP, Hypnosis, dan Hypnotherapy, termasuk juga Modern Reiki, hanyalah metode, hanyalah teknik.
Kapan, dimana, dan bagaimana menggunakannya, akan sangat tergantung dari problematika apa yang kita coba selesaikan. Ini juga berarti, ketepatan suatu teknik atau cara, akan sangat tergantung dari orang yang menghadapi problem itu sendiri.
DISC Personality StylesKesimpulan yang saya dapat itu, membawa saya kembali ke ilmu personality profiling. Namun kini metodenya lebih modern, yaitu DISC Personality Styles. Bagi Anda psikolog organisasi, tentunya tidak asing dengan metode ini.
Kali ini, guru DISC saya memberi penjelasan yang melegakan, “Kepribadian hanyalah potret diri, belum tentu menggambarkan 100% apa yang ada pada dirinya. Ibarat potret yang gayanya bisa berubah, demikian pula kepribadian”.
Di manual standar internasional DISC, saya menemukan keterangan bagaimana seseorang dapat mengubah gaya kepribadianya. Diantaranya adalah mengubah keyakinan, melakukan repetisi, dan umumnya berlangsung kurang lebih selama 21 hari.
Hmmm... bukankah itu juga yang saya dapat di NLP dan Hypnotherapy?
The Thin Red LineMisteri akhirnya terkuak, dan pertanyaan pun terjawab sudah. Saya mengerti, bukanlah suatu kebetulan saya dipertemukan dengan ilmu – ilmu dahsyat tersebut.
Sebuah pemikiran liar untuk memadukannya pun muncul. Mungkinkah ?...
Di NLP dan Hypnotherapy, saya belajar tentang Present State dan Desired State.
Mengetahui diri kita saat ini (present state) dan memahami kondisi yang ingin diraih (desired state), sangatlah penting. Ini membantu kita mendapat hasil akhir yang diinginkan (Outcome), sekaligus mengetahui strategi yang tepat untuk meraihnya.
Metode personality profiling dapat digunakan untuk menguak present state, dan… dengan present state itu seseorang dibantu untuk memahami desired state dan outcome nya.
Selanjutnya adalah menentukan strategi mencapai desired state dan mewujudkan outcome. Apa saja yang perlu diubah?..., kebiasaan baru apa yang harus dimiliki?..., apakah untuk meraih hasil akhir yang diinginkan, pikiran dan keyakinan perlu ditata ulang (re-setting)?..., bagaimana caranya?.
Disinilah NLP, Hypnosis, Hypnotherapy, dan bahkan Modern Reiki, memainkan peranannya. Bisa salah satu, atau kombinasikan saja sesuai kebutuhan orang yang akan kita bantu.
Ya!..., inilah metode terpadu. Saya menyebutnya Integrated Human Therapy. Hasil dari terapi terpadu ini, ternyata sangat menggembirakan.
Keberhasilan inilah yang memantapkan saya untuk me-resmikan kompetensi di bidang – bidang ilmu yang saya pelajari itu, dengan mengikuti sertifikasi internasional.
Claim is Over…SUBHANALLAAH… penelusuran ini begitu panjang, memakan waktu bertahun – tahun, menguras pemikiran, dan membutuhkan banyak pembuktian.
Bagaimanapun, saya enjoy melakukannya. Ya!, mempelajari manusia dan perilakunya selalu menyenangkan bagi saya.
Kini tidak berlaku lagi klaim “yang ter…”. Semuanya sangat tergantung, semuanya adalah pilihan.
Semakin melegakan ketika saya mengetahui bahwa Hypnosis juga digunakan oleh Ivan Pavlov dan Sigmund Freud, dua tokoh terkemuka di bidang Psikologi.
Dan ingatlah... Richard Bandler serta John Grinder, ketika menciptakan NLP, mereka mengobservasi para therapist ternama, seperti Fritz Perlz, Virginia Satir, dan Milton Erickson (Bapak Modern Hypnosis).
So..., sangat menggelikan ketika mengetahui murid – murid mereka saling klaim keampuhan. Sementara para mahaguru baik – baik saja, bahkan saling mendukung satu sama lain.
Bagaimana mungkin Richard Bandler dan John Grinder meng-klaim NLP adalah metode terbaik atau lebih baik, sementara mereka mengajarkan Meta-Model yang menekankan aspek clarity atau kejelasan informasi. Yang berarti, kalau sesuatu dikatakan terbaik, maka harus jelas, terbaik dalam hal apa, dan/atau terbaik menurut siapa.
Bagaimana mungkin Richard Bandler meng-klaim NLP adalah metode terampuh atau lebih ampuh, sementara Milton Erickson sendiri menggelari Bandler sebagai “
a good hypnotist!”.
our mind is like parachute…, it really works, when its open.- Albert Einstein